Senin, 12 November 2018


afinitas magma

Magma adalah cairan silikat pijar atau larutan silikat pijar cair yang bersuhu sangat tinggi yaitu berkisar antara 900°-1200°C atau bisa saja lebih dari itu,magma berasal dari kerak bumi bagian bawah atau selubung bumi bagian atas,magma juga terbentuk secara alamiah dan bersifat mobile.
Afinitas magma merupakan perubahan komposisi – komposisi kimia yang terkandung didalam magma yang disebabkan oleh oleh adanya factor – factor tertentu. Aktifitas – aktifitas magma ini bisa berbeda satu sama lainnya di setiap lingkungannya, kegiatatan afinitas magma dipengaruhi oleh adanya beberapa factor, diantaranya :
  1. Perbedaan lingkungan tektonik
  2. Kandungan unsur kimia pada batuan sampling
Peccerillo dan Taylor (1976) mengelompokkan jenis magma berdasarkan kandungan potassium (K2O) dan silica (SiO2) menjadi empat golongan  yaitu :
1.                  Golongan Tholeiite
Memiliki kandungan potassium yang sangat rendah. Berdasarkan kandungan silikanya golongan ini dapat dibedakan menjadi empat jenis dengan urutan : Low K Tholeiite, Low K Basltic Andesitic, Low K Andesite, dan Low K Dacite. Semakin ke arah low K dacite, kandungan silikanya semakin besar.
2.                  Golongan Calc-Alkaline
Memiliki kandungan potassium yang relatif lebih besar dari golongan tholeiite. Berdasarkan kandungan silikanya, golongan ini dapat dibedakan menjadi empat jenis dengan urutan : Basalt, Basaltic Andesite, Andesite, dan Dacite.  Semakin ke arah dacite, kandungan silikanya semakin besar.
3.                  Golongan High K Calc-Alkaline
Memiliki kandungan potassium yang tinggi. Berdasarkan kandungan silikanya, golongan ini dapat dibedakan menjadi tiga jenis dengan urutan : High K basaltic Andesite, High K andesite, dan Latite. Semakin ke arahlatite, kandungan silikanya semakin besar.
4.                  Golongan Shoshonite
Memiliki kandungan potassium yang sangat tinggi. Berdasarkan kandungan silikanya, golongan ini dapat dibedakan menjadi tiga jenis dengan urutan : Absarokite, Shoshonite, dan Banakite. Semakin ke arah banakite, kandungan silikanya semakin besar.


MAGMA
Magma adalah cairan atau larutan silikat pejar yang terbentuk secara alamiah, bersifat mudah bergerak (mobile), bersama antara 90°-110°C dan berasal atau terbentuk pada kerak bumi bagian bawah hingga selubung bagian atas (F.F Grounts,1947; Turner&Verhoogen,1960; H.Williams,1962).
            Komposisi kimiawi magma dari contoh-contoh batuan beku terdiri dari :
  • Senyawa-senyawa yang bersifat non volatile dan merupakan senyawa oksida dalam magma. Jumlahnya sekitar 99% dari seluruh isi magma , sehingga merupakan mayor element, terdiri dari  SiO2, Al2O3, Fe2O3, FeO, MnO, CaO, Na2O, K2O, TiO2, P2O5.
  • Senyawa volatil yang banyak pengaruhnya terhadap magma, terdiri dari fraksi-fraksi gas CH4, CO2, HCl, H2S, SO2 dsb.
  • Unsur-unsur lain yang disebut unsur jejak (trace element) dan merupakan minor element seperti Rb, Ba, Sr, Ni, Li, Cr, S dan Pb
Secara fisika, magma merupakan sistem berkomponen ganda (multi compoent system) dengan fase cair dan sejumlah kristal yang mengapung di dalamnya sebagai komponen utama, dan  pada keadaan tertentu juga berfase gas. Para ahli berpendapat bahwa panas bumi berasal dari proses “pembusukan” material-material radioaktif yang kemudian meluruh atau mengalami disintegration menjadi unsur radioaktif dengan komposisi yang lebih stabil dan pada saat meluruh akan mengeluarkan sejumlah energi (panas) yang kemudian akan melelehkan batuan-batuan disekitarnya. Dimungkinkan, dari  proses tersebut dan pengaruhnya terhadap geothermal gradient yang mencapai 193.600°C inilah magma dapat terbentuk. Pembentukan magma sebenarnya adalah suatu proses yang sangat rumit.
Proses-proses ini berlangsung tahap demi tahap yang kemudian membentuk sebuah rangkaian khusus yang meliputi proses pemisahan atau differentiation, pencampuran atau assimilation, dan anateksis atau peleburan batuan pada kedalaman yang sangat besar. Sementara itu, faktor atau hal-hal yang selanjutnya akan menentukan komposisi suatu magma adalah bahan-bahan yang meleleh, derajat fraksinasi, dan jumlah material-material pengotor dalam magma oleh  batuan samping ( parent rock).

Magma pada perjalanannya dapat mengalami perubahan atau disebut dengan evolusi magma. Proses perubahan ini menyebabkan magma berubah menjadi magma yang bersifat lain oleh proses-proses sebagai berikut :

a)      Hibridasi : proses pembentukan magma baru karena pencampuran 2 magma yang berlainan jenis.  
b)      Sintetis : Pembentukan magma baru karena adanya proses asimmilasi dengan  batuan samping.
c)      Anateksis : proses pembentukan magma dari peleburan batu-batuan pada kedalaman yang sangat besar.
Dan dari proses-proses diatas, magma akan berubah sifatnya, dari yang awalnya bersifat homogen pada akhirnya akan menjadi suatu tubuh batuan beku yang bervariasi.
 



DIFERENSIASI MAGMA
Diferensiasi magma adalah suatu tahapan pemisahan atau pengelompokan magma dimana material-material yang memiliki kesamaan sifat fisika maupun kimia akan mengelompok dan membentuk suatu kumpulan mineral tersendiri yang nantinya akan mengubah komposisi magma sesuai penggolongannya  berdasarkan kandungan magma. Proses ini dipengaruhi banyak hal. Tekanan, suhu, kandungan gas serta komposisi kimia magma itu sendiri dan kehadiran  pencampuran magma lain atau batuan lain juga mempengaruhi proses diferensiasi magma ini.
Magma dapat berubah menjadi magma yang bersifat lain oleh proses-proses sebagai berikut:

a)      Hibridisasi = pembentukan magma baru karena pencampuran 2 magma yang  berlainan jenis.  
b)      Sintesis = pembentukan magma baru karena proses asimilasi dengan batuan gamping.
c)      Anateksis = proses pembentukan magma dari peleburan batuan pada kedalaman yang sangat besar.


Sehingga dari akibat-akibat proses tersebut magma selanjutnya mengalami  perubahan daya kondisi awal yang homogen dalam skala besar sehingga menjadi suatu tubuh batuan beku yang bervariasi.



 Gambar Skematik proses differensiasi magma pada fase magmatik cair

Proses-proses differensiasi magma (keterangan untuk Gambar 7) meliputi:
1. Vesiculation,
Magma yang mengandung unsur-unsur volatile seperti air (H2O), Karbon dioksida (CO2), Sulfur dioksida (SO2), Sulfur (S) dan Klorin (Cl). Pada saat magma naik kepermukaan bumi, unsur-unsur ini membentuk gelombang gas, seperti buih pada air soda. Gelombang (buih) cenderung naik dan membawa serta unsur-unsur yang lebih volatile seperti Sodium dan Potasium.

2. Diffusion,
Pada proses ini terjadi pertukaran material dari magma dengan material dari batuan yang mengelilingi reservoir magma, dengan proses yang sangat lambat. Proses diffusi tidak seselektif proses-proses mekanisme differensiasi magma yang lain. Walaupun demikian, proses diffusi dapat menjadi sama efektifnya, jika magma diaduk oleh suatu pencaran (convection) dan disirkulasi dekat dinding dimana magma dapat kehilangan beberapa unsurnya dan mendapatkan unsur yang lain dari dinding reservoar.
 
3. Flotation,
Kristal-kristal ringan yang mengandung Sodium dan Potasium cenderung untuk memperkaya magma yang terletak pada bagian atas reservoar dengan unsur-unsur Sodium dan Potasium.

4. Gravitational Settling,
Mineral-mineral berat yang mengandung Kalsium, Magnesium dan Besi, cenderung memperkaya resevoir magma yang terletak disebelah bawah reservoir dengan unsur-unsur tersebut. Proses ini mungkin menghasilkan kristal badan bijih dalam bentuk perlapisan. Lapisan paling bawah diperkaya dengan mineral-mineral yang lebih berat seperti mineral-mineral silikat dan lapisan diatasnya diperkaya dengan mineral-mineral Silikat yang lebih ringan.

5. Assimilation of Wall Rock,
Proses ini dapat terjadi pada saat terdapat material asing dalam tubuh magma seperti adanya batuan disekitar magma yang kemudian  bercampur, meleleh dan bereaksi dengan magma induk dan kemudian akan mengubah komposisi magma. Selama emplacement magma, batu yang jatuh dari dinding reservoir akan bergabung dengan magma. Batuan ini bereaksi dengan magma atau secara sempurna terlarut dalam magma, sehingga merubah komposisi magma. Jika batuan dinding kaya akan Sodium, Potasium dan Silikon, magma akan berubah menjadu komposisi granitik. Jika batuan dinding kaya akan Kalsium, Magnesium dan Besi, magma akan berubah menjadi berkomposisi Gabroik.
Gambar asimilasi magma


6. Thick Horizontal Sill,
Secara umum bentuk ini memperlihatkan proses differensiasi magmatik asli yang membeku karena kontak dengan dinding reservoir. Jika bagian sebelah dalam memebeku, terjadi Crystal Settling dan menghasilkan lapisan, dimana mineral silikat yang lebih berat terletak pada lapisan dasar dan mineral silikat yang lebih ringan.

7. Fragsinasi,
Proses ini merupakan suatu proses pemisahan kristal-kristal dari larutan magma karena proses kristalisasi perjalan tidak seimbang atau kristal-kristal tersebut pada saat pendinginan tidak dapat mengubah perkembangan. Komposisi larutan magma yang baru ini terjadi sebagai akibat dari adanya  perubahan temperatur dan tekanan yang mencolok serta tiba-tiba.


                                 Gambar Crystallization and settling

8. Liquid Immisbility,
Ialah larutan magma yang mempunyai suhu rendah akan  pecah menjadi larutan yang masing-masing akan membelah membentuk bahan yang heterogen.


















 







Minggu, 03 Juni 2018

SERI REAKSI BOWEN



SERI REAKSI BOWEN













 















Urutan kristalisasi mineral dalamn reaksi Bowen tidak semata-mata menunjukkan “Sacceasive Crystalitation”, tetapi bisa “overlapping”. Sehingga dengan memperhatikan reaksi Bowen, kita memperoleh berbagai kemungkinan
himpunan mineral utama didalam batuan beku diantaranya :
Mineral utama sebagai penyusun utama pembentuk batuan antara lain:

a. Kwarsa (Quartz)

Mineral ini mempunyai susunan kimia dengan rumus SiO2 dan terhitung mineral yang banyak sekali tersebar, warna asli tidak berwarna putih, tetapi karena adanya pengotoran dari unsur lain sehingga berwarna lain, bentuk kristal prismatic hexagonal, tidak mempunyai belahan, pecahannya: conchoidal, kekerasan: 7 (skala mohs). Ciri yang khas dari mineral ini, terdapat garis-garis mendatar pada sisi bidang kristalnya. Mempunyai warna tersendiri, sering berwarna jernih atau putih suram. Pengisian dari berbagai zat didalamnya, memberikan warna yang berbeda-beda, ada yang berwarna kekuning-kuningan, ungu (amnetis), coklat dan lain-lain. Biasanya tidak mempunyai bentuk yang baik, karena merupakan mineral yang menghablur terakhir dari magma, sehingga terpaksa harus mengisi celah-celah dan rongga-rongga sisi yang terdapat diantara kristal-kristal dari mineral yang telah terbentuk lebih dahulu.

b. Feldspar

Merupakan golongan mineral yang paling umum dijumpai di dalam kulit bumi sebagai Silikat dari Alumina dengan Kalium, Natrium, dan Kapur. Sistim Monoklin/Triklin terlihat belahan dalam 2 arah. Kekerasan 6 Felspar dibagi atas 2 golongan, yaitu:

1. Potash Felspar (K Al Si3O8)

Terdiri dari mineral ortoklas, mikrolin dan sanidin adularis. Warnanya putih, pucat atau merah daging, abu-abu. Kilat seperti kaca (petreous). Bidang belahan baik, tidak ada striasi (garis-garis paralel yang lembut). Ortoklas (KALSiO2), sebagai sumber utama unsur K (Kalium) dalam tanah, umumnya berwarna abu-abu, kemerahan, belahan dua arah, kekerasan 6, bersifat asam.

2. Plagioklas Feldspar (Na, Ca)Al Si3O8

Warna putih atau abu-abu berwarna lain, kilap pitreus. Bidang belahan baik kedua arah ada sitriasi. Mudah dibedakan dari Ortoklas karena adanya kembaran yang dapat dilihat dibawah loupe, lebih-lebih di bawah mikroskop. Sering berbentuk zona dan berubah menjadi Serisit, Kaolinit atau Epidot.

Plagioklas felspar terdiri atas 6 macam mineral, yaitu:

a. Albit
b. Oligoklas
c. Andesin
d. Bitownit
e. Labradorit
f. Anorthit

Makin ke bawah makin berkurang mengandung Na dan makin bertambah akan mengandung Ca. Albit, Andesin disebut Plagioklas asam atau Na Plagioklas. Anortit, Bitonit disebut Plagioklas basa atau Calcic Plagioklas. Plagioklas (Na, Ca) AlSi3O8 kenampakannya menyerupai Ortoklas, hanya warnya biasa putih abu-abu dan secara optic Plagioklas mempunyai kembaran. Plagioklas terdiri dari mineral-mineral Albit, Oligoklas, Andesine, Bitonit, Labradorit dan Anortit.

c. Feldspatoid

Merupakan mineral pengganti Feldspar, karena terbentuk bila dalam suatu batuan tidak cukup terdapat SiO2. Dalam batuan yang mengandung SiO2 bebas, mineral ini tidak terbentuk, karena yang terbentuk adalah Felspar. Feldspatoid ini terdiri atas beberapa mineral, antara lain: Leucit (K Al Si2O) sebagai pengganti orthoklas. Warnanya putih agak jernih dan bentuknya aquant/bulat. Nephelin (Na Al Si2O6) sebagai pengganti Plagioklas (Albit). Warna abu-abu. Bentuk berisi 6 atau bulat. Sodalit warnanya putih, abu-abu atau kebiruan.

d. Mika (Glimmer)

Ada tiga macam, yaitu muscovit, biotit, dan phlogopit.

1). Muscovit, disebut juga mika putih. Rumus kimianya K Al (OH)2 (Al Si3 O10). Mudah dikenal, karena sifatnya yang mudah dibelah-belah dalam helaian-helaian yang sangat tipis, transparan dan fleksibel, tidak berwarna, abu-abu, kehijauan atau coklat muda, kilap vitreum, kekerasan 2-3.

2). Biotit disebut juga Mika hitam, dengan rumus kimia K2 (Mg, Fe)2 (OH)2 AlSi3 O8. Mudah terbelah dalam satu arah dan biasanya berbentuk segi enam, tidak transparan, fleksibel. Warna: hitam hingga coklat tua, kilap vitrous, kekerasan 2,5 - 3.

3). Phlogopit disebut juga mika coklat. Tidak banyak dijumpai.

e. Amfibol

Terutama terdiri dari mineral Hornblende. Susunan Kimianya Ca2(MgFeA1)3(OH)2(SiA14O11)2. Berbentuk prismatik, biasanya berisi kelipatan tiga, agak panjang dengan belahan dua arah menyudut kira-kira 900. Merupakan kumpulan mineral-mineral yang berbentuk prisma pendek berisi delapan. Warna : coklat tua hingga hitam. Kekerasan 5 - 6. yang terpenting dari golongan ini adalah Hornblende.

f. Piroksen

Terutama terdiri dari mineral Augit. Berbentuk prismatik pendek berisi kelipatan 4 dengan belahan 2 arah menyudut. Merupakan kumpulan dari mineral-mineral yang berbentuk prisma pendek bersisi delapan. Striasi bersudut kira-kira 900. Pyroxen adalah senyawa yang kompleks dari Calsium, Magnesium, Ferum, dan Silikat. Warna coklat tua hingga hitam. Kekerasan 5 - 8. Mineral golongan ini antara lain : Enstatit, Hypersten, Diopsid, dan yang paling banyak terdapat ialah Augit dengan rumus kimia Ca (MgFe) (SiO3)2 (AlFe)2 O3.

g. Olivin

Biasanya berwarna hijau terdiri dari (FeMg)2SiO4. Pada umumnya terdapat dalam batu Basalt dan Gabro. Olivin membentuk kristal yang ideal, karena terbentuk pertama-tama dari magma. Warna hijau atau kuning kecoklatan. Biasanya berbutir halus dan granular. Pecahan concoidal (seperti kerang). Kekerasan 6,5 - 7.

h. Kalsit

Mineral ini berwarna putih, sering ada pengotoran, mempunyai belahan 3 arah berbentuk Rombuder, susunan kimianya CaCO3.

i. Grafit

Mineral ini  unsurnya Karbon (C) berwarna hitam, lunak, umumnya pada batuan ubahan.
a.       Kelompok batuan ultrabasa dan basa
 ü Olivin
 ü Olivin –Piroksen
 ü Olivin-Plagioklas
 ü Olivin-Plagioklas-Piroksen
 ü Piroksen
 ü Piroksen-Plagioklas

b.      Kelompok batuan intermediate
ü Piroksen-Hornblende-Plagioklas
ü Hornblende-Plagioklas
ü Hornblende-Plagioklas-Biotit-Kwarsa

c.       Kelompok batuan intermediete-asam
ü Hornblende-Biotit-Ortoklas-Plagioklas
ü Hornblende-Biotit-Muscovit-Plagioklas-Kwarsa
ü Biotit-Muscovit-Ortoklas

Sebenarnya di dalam himpunan mineral tersebut diatas ada suatu mineral lain yang sangat khas (tidak tertera dalam deret Bowen) yaitu suatu kelompok seri batuan bersusunan basa, yaitu mineral golongan feldspatoid (leusite, nefelin, dsb). Hadirnya mineral tersebut memberikan petunjuk bahwa kandungan silika dalam magma terlalu rendah sehingga tidak memungkinkan terbentuk mineral golongan feldspar.

KOMPOSISI MINERAL BATUAN BEKU

Menurut Walker T. Huang, 1962, komposisi mineral dikelompokkan menjadi tiga kelompok mineral yaitu :

A. Mineral Utama
Mineral-mineral ini terbentuk langsung dari kristalisasi magma dan kehadirannya sangat menentukkan dalam penamaan batuan. Berdasarkan warna dan densitas dikelompokkan menjadi dua yaitu:
  1. Mineral felsik ( mineral berwarna terang dengan densitas rata-rata 2,5 - 2,7 ), yaitu :
a.  Kuarsa ( SiO2 )
b. Kelompok feldspar, terdiri dari seri feldspar alkali  (K, Na) ALSi3O8. Seri feldspar alkali terdiri dari sanidin, orthoklas, anorthoklas, adularia dan mikrolin. Seri plagioklas terdiri dari albit, oligoklas, andesin, labradorit, biwtonit dan anortit.
c.   Kelompok feldspartoid (Na, K Alumina silika), terdiri dari nefelin, sodalit, leusit.

2.   Mineral mafik (mineral-mineral feromagnesia dengan warna gelap dan densitas rata-rata 3,0 - 3,6), yaitu :
a.    Kelompok olivin, terdiri dari Fayalite dan Forsterite
b.    Kelompok piroksen, terdiri dari Enstatite, Hiperstein, Augit, Pigeonit, Diopsid.
c.     Kelompok mika, terdiri dari Biotit, Muscovit, Plogopit.
d. Kelompok Amphibole, terdiri dari Anthofilit, Cumingtonit, Hornblende, Rieberkit, Tremolit, Aktinolite, Glaukofan, dll.

B. Mineral Sekunder
Merupakan mineral-mineral ubahan dari mineral utama, dapat dari hasil pelapukan, hidrotermal maupun metamorfisma terhadap mineral-mineral utama. Dengan demikian mineral-mineral ini tidak ada hubungannya dengan pembekuan magma (non pirogenetik). Mineral sekunder terdiri dari :
a. Kelompok kalsit (kalsit, dolomit, magnesit, siderit), dapat terbentuk dari hasil ubahan mineral plagioklas.
b. Kelompok serpentin (antigorit dan krisotil), umumnya terbentuk dari hasil ubahan mineral mafik (terutama kelompok olivin dan piroksen).
c. Kelompok klorit (proktor, penin, talk), umumnya terbentuk dari hasil ubahan mineral kelompok plagioklas.
d.   Kelompok serisit sebagai ubahan mineral plagioklas.
e.   Kelompok kaolin (kaolin, hallosyte), umumnya ditemukan sebagai hasil pelapukan batuan beku.

C. Mineral Tambahan (Accesory Mineral)
Merupakan mineral-mineral yang terbentuk pada kristalisasi magma, umumnya dalam jumlah sedikit. Apabila hadir dalam jumlah yang cukup banyak tetap tidak mempengaruhi penamaan batuan, tetapi hal ini bisa mempunyai nilai ekonomis. Termasuk dalam golongan ini antara lain :
a.   Hematite
b.   Kromit
c.    Muscovit
d.   Rutile
e.   Magnetit
f.     Zeolit
g.    Apatit dan lain-lain.


Batuan piroklastik


Batuan piroklastik
Batuan piroklastik adalah batuan vulkanik klastik yang dihasilkan oleh serangkaian proses yang berkaitan dengan letusan gunungapi. Material penyusun tersebut terendapkan dan terbatukan/terkonsolidasikan sebelum mengalami transportasi (reworked) oleh air atau es Pada kenyataannya batuan hasil kegiatan gunung api dapat berupa aliran lava sebagaimana diklasifikasikandalam batuan beku atau berupa produk ledakan/eksplorasi dari material yang bersifat padat, cair, ataupun gas yang terdapat dalam perut gunung. adalah batuan yang dihasilkan oleh proses litifikasi bahan – bahan lepas yang dilemparkan dari pusat vulkanik selama erupsi yang bersifat explosif. Bahan tersebut jatuh kemudian mengalami litifikasi baik sebelum di transport maupun hasil reworking. Batuan piroklastik adalah batuan yang tersusun atas fragmen – fragmen hasil erupsi vulkanik secara explosive.
Batuann piroklastik merupakan batuan yang dihasilkan oleh erupsi gunung api dengan ciri-ciri yang khas. Untuk mempelajari material piroklastik, terlebih dulu kita harus memahami tentang aktivitas vulkanisne baik proses maupun produknya. Pemahanan itu secara umum meliputi pemahaman tentang :
1. Erupsi gunung api.
2. Material hasil aktivitas gunung api.

Tekstur batuan piroklastik
Batuan piroklastik merupakan batuan gunung api bertekstur klastika sebagai hasil letusan gunung api dan langsung dari magma pijar. Piroklastik merupakan fragmen yang dibentuk dalam letusan vulkanik, dan secara khusus menunjuk pada klastika yang dihasilkan dari magmatisme letusan. Dalam mempelajari batuan piroklastik kita tidak dapat lepas dari mempelajari bagaimana mekanisme pembentukan dan karakteristik endapan piroklastik.
Description: E:\ukuran butir.png








Ukuran butir pada piroklastik tersebut merupakan salah satu kriteria untuk menamai batuan piroklastika tanpa mempertimbangkan cara terjadi endapan piroklastika tersebut. Ada tiga cara kejadian endapan piroklastik. Pengendapan yang dikarenakan gaya beratnya dikenal dengan piroklastika jatuhan. Jenis piroklastika ini umum terjadi disetiap gunung berapi. Struktur dan teksturnya menyerupai batuan endapan. Dua kelompok piroklastika yang lain adalah piroklastika aliran dan piroklastik hembusan.
a. Ukuran Butir
Adalah ukuran dari batuan piroklastik itu sendiri, terbagi menjadi beberapa macam, yaitu :
- Block (untuk yang berbentuk menyudut) dan Bomb (untuk yang berbentuk membulat) berukuran lebih besar dari 32 mm.
- Lapili yaitu untuk ukuran butiran dari 4 mm – 32 mm diameternya
- Debu yaitu batuan yang lebih kecil dari 4 mm
b. Bentuk butir
Adalah bentuk dan keadaan batuan tersebut, ada beberapa macam yaitu :
- Membulat sempurna, sangat bulat seperti bola.
- Membulat, hampir seperti bola
- Menyudut, yaitu memiliki sudut – sudut pada permukaannya.
c. Kompaksi
Adalah tingkat kekerasan pada batuan piroklastik, ada 2 macam kompaksi yang dikenal dalam piroklastik, yaitu :
- Kompak, permukaannya kuat, keras dan padat.
- Mudah hancur, bila dipegang meninggalkan serbuk pada tangan.

Tekstur  yang umum bisa dijumpai pada tufa adalah :
• Pumiceous (Pumisan)
Yaitu hasil erupsi / letusan padat yang sangat vesikuler, porositas sangat tinggi dan bersifat gelasan.
• Sindered Tufa
Yaitu proses pengendapan tufa oleh penyatuan bahan – bahan tufa akibat panas dari aliran lava.
• Weldered Tufa
Tufa yang selama proses pengendapan pada bagian dalam dari bahan – bahan tufa yang sangat tebal dan masih dalam kondisi panas yang mengakibatkan terjadinya fusi ke seluruh material lepas yang membentuk suatu aliran menyerupai aliran lava.

Struktur
Seperti halnya batuan volkanik lainnya, batuan piroklastik mempunyai struktur vesikuler, scoria dan amigdaloidal. Jika klastika pijar dilemparkan keudara dan kemudia terendapkan dalam kondisi masih panas, berkecenderungan mengalami pengelasa antara klastika satu dengan lainnya. Struktur tersebut dikenal dengan pengelasan atau welded. Struktur Batuan Piroklastik yang lain adalah :
1.     Masif : Batuan masif bila tidak menunjukan struktur dalam.
2.     Laminasi : Perlapisan dan struktur sedimen yang mempunyai ketebalan kurang dari 1                         cm.
3.     Berlapis : Perlapisan dan struktur sedimen yang mempunyai ketebalan lebih dari 1 cm.

Struktur Batuan Piroklastik
Pada batuan piroklastik yang berbutir kasar maupun halus kita bisa didapatkan struktur – struktur yang seringkali terdapat pada batuan sedimen, seperti perlapisan. Batuan piroklastik yang berbutir halus (tufa) seringkali memperlihatkan tekstur seperti batuan beku lelehan (“Afanitik” dan “Piroklastik”).

Penamaan batuan piroklastik berdasarkan pada butirnya, dikenal 4 jenis yaitu :
• Aglomerat
  Ukuran butir lebih besar 32 mm (Bomb)
• Breksi Volkanik
  Ukuran butir lebih besar 32 mm (Block)
• Tufa Lapili
  Ukuran butir antara 4 – 32 mm
• Tufa
  Ukuran butir sangat halus (abu/debu)

Aglomerat
Adalah batuan piroklastik yang mirip dengan konglomerat (batuan sedimen) di dalam tekstur. Perbedaannya terletak pada komposisi, di mana aglomerat terdiri dari fragmen – fragmen volkanik (lava dan piroklastik di antaranya gelas).

Breksi Volkanik
Seperti halnya aglomerat, breksi volkanik juga dibentuk oleh material gunungapi (volknik).

Tufa (Tuff)
Batuan piroklastik yang berukuran halus adalah tufa (tuff). Batuan ini terdiri dari material fragmen kristal / mineral. Berdasarkan pada komponen terbanyak fragmen kristal / mineral yang dikandung, tufa dapat dibedakan atas 3 golongan sebagai berikut :
- Tufa Vitric : Banyak fragmen gelas
- Tufa Kristal : Banyak fragmen kristal
- Tufa Lithik : Banyak fragmen batuan

  Komposisi Batuan Piroklastik
Komposisi batuan piroklastik dibadi menjadi empat bagian yaitu menurut kandungan : Mineral-mineral sialis, Mineral ferromagnesian, Mineral tambahan, dan Mineral ubahan.

Mineral – mineral sialis terdiri dari :
1. Kuarsa (SiO2), ditemukan hanya pada batuan gunung api yang kaya kandungan silika atau bersifat asam.
2. Feldspar, baik alkali maupun kalsium feldspar (Ca)
3. Feldspatoid, merupakan kelompok mineral yang terjadi jika kondisi lautan magma dalam keadaan tidak atau kurang jenuh silika.

Mineral Ferromagnesia

Merupakan kelompok mineral yang kaya kandungan Fe dan Mg silika yang kadang – kadang disusul oleh Ca silika. Mineral tersebut hadir berupa kelompok mineral :
1. Piroksen, mineral penting dalam batuan gunung api
2. Olivin, merupakan mineral yang kaya akan besi dan magnesium dan miskin silika.
3. Hornblende, biasanya hadir dalam andesit
4. Biotit, merupakan mineral mika yang terdapat dalam batuan vulkanik berkomposisi intermediet hingga asam.

Mineral Tambahan
Yang sering hadir adalah ilmenit dan magnetit. Keduanya merupakan mineral bijih. Selain itu sering kali didapati mineral senyawa sulfida atau sulfur murni.
Mineral Ubahan
Dalam batuan piroklastik mineral ubahan sering muncul saat batuan terlapukan atau terkena alterasi hidrotermal. Mineral tersebut seperti : klorit, epidot, serisit, limonit, montmorolonit dan lempung, kalsit


KLASIFIKASI BATUAN PIROKLASTIK












Penamaan batuan piroklastik menurut Schmid (1981) berdasar ukuran butir piroklas secara deskriptif










Apabila batuan piroklastik terdiri dari campuran berbagai ukuran piroklas, klasifikasi dengan diagram segitiga (Fischer, 1966) dengan anggota akhir blok atau bom, lapili dan abu yang disajikan










Berdasarkan komposisi penyusunnya, tuf dapat dibagi menjadi tuf gelas, tuf kristal dan tuf litik, apabila komponen yang dominan masing-masing berupa gelas/kaca, kristal dan fragmen batuan. Tuf juga dapat dibagi menjadi tuf basal, tuf andesit, tuf dasit dan tuf riolit, sesuai klasifikasi batuan beku. Apabila klastikanya tersusun oleh fragmen batuapung atau skoria dapat juga disebut tuf batuapung atau tuf skoria. Demikian pula untuk aglomerat batuapung, aglomerat skoria, breksi batuapung, breksi skoria, batulapili batuapung dan batulapili skoria.
.           Breksi vulkanik

 





Warna                          : abu-abu kehitaman
Struktur                       : masif
Teksture                      :
Ukuran butir                : bongkah
Derajat pembundaran  : menyudute
Derajat pemilahan       : buruk
Kemas                         : terbuka
Komposisi mineral      :
Mineral sialis:              : -
Mineral ferromagnesian: -
Mineral tambahan       : litik batuan




.           Ignimbrite










Warna                          : coklat kehitaman
Struktur                       : masif
Teksture                      :
Ukuran butir                : debu
Derajat pembundaran  : menyudut
Derajat pemilahan       : buruk
Kemas                         : terbuka
Komposisi mineral      :
Mineral sialis:              : feldspar
Mineral ferromagnesian: kuarsa
Mineral tambahan       : pecahan gelas

. Batulapili

 






Warna                          : abu-abu
Struktur                       : masive
Teksture                      :
Ukuran butir                : lapillus (0.04-2mm)
Derajat pembundaran  :menyudut
Derajat pemilahan       :buruk
Kemas                         :tertutup
Komposisi mineral      :
Mineral sialis:              :kuarsa
Mineral ferromagnesian:hornblende
Mineral tambahan       :debu vulkanik


















DAFTAR PUSTAKA

Staff Asisten Mineralogi dan Petrologi. 1995. Diktat Praktikum Petrologi. Laboratorium   Bahan Galian Jurusan Teknik Geologi UGM. Yogyakarta.
Endarto, Danang.2005. Pengantar Geologi Dasar.Bandung:UNS Press
Graham, Dody Setia.1987.Batuan dan Mineral.Bandung:Nova